News
Membangun Hidup Melalui Lukisan
Wed September 22,2010
Oleh: Lira Rewiantari
Bank Andara tegas berkomitmen untuk bekerja sama dengan seluruh LKM, khususnya di kota-kota pulau Jawa dan Bali, bahkan tidak menutup kemungkinan untuk merambah ke kota-kota di pulau lain, hingga ke pelosok kota. Hal ini tak lepas dari visi dan misi Bank Andara untuk mengurangi tingkat kemiskinan di Indonesia melalui kerja sama dengan LKM, dan salah satunya adalah PD BPR Bangodua.
PD BPR Bangodua merupakan salah satu dari nasabah Bank Andara yang bertempat di Kota Indramayu. BPR ini memfokuskan pemberian kredit untuk sektor pertanian dan perdagangan, yang merupakan mata pencaharian yang didominasi oleh masyarakat setempat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun tak hanya kedua sektor usaha tersebut yang dilakukan oleh masyarakat, salah satunya adalah Bapak Sahidin, yang merupakan salah satu nasabah dari BPR Bangodua yang kini tengah merintis sukses melalui karya lukisnya.
Sebagai pelukis yang mulai merintis karirnya dari lulus kuliah jurusan seni rupa pada tahun 1992, kehidupan Pak Sahidin sebelumnya memang tak seperti sekarang ini. Kini lukisan pelukis yang beraliran expresionis impresif tersebut sudah dihargai 10 juta ke atas oleh para kolektor lukisan. Tak hanya itu, bahkan Ia pernah mengikuti pameran lukisan di Hotel Four Season Jakarta, sebuah pameran lukisan yang sulit untuk ditembus oleh para pelukis pada tahun 2004.
Pak Sahidin sudah menghasilkan keuntungan dari lukisannya sejak kelas 1 SMP dan menjadi pelukis profesional pada tahun 1995, namun tak dapat dipungkiri bahwa hasil kerja keras yang baru dapat ia nikmati mulai dari tahun 2005 lalu ini tak lepas dari bantuan Pak Iwan, teman satu bandnya yang bekerja di BPR Bangodua (Indramayu), yang merupakan mitra dari Bank Andara. Ketika Pak Sahidin sedang mengalami kesulitan keuangan, Pak Iwan datang menawarkan bantuan untuk peminjaman kredit. "Pada awalnya, saya ragu dan tidak berani pinjam, karena takut nggak bisa ngelunasin", tutur Pelukis yang memiliki dua anak tersebut.
Namun pada akhirnya, Pak Sahidin pun memberanikan diri untuk mengambil pinjaman tersebut dengan agunan berupa sebidang tanah yang merupakan asetnya yang berharga. "Mungkin karena kedekatan saya secara emosional dengan Pak Iwan sebagai teman band sejak tahun 1992, makanya ia percaya bahwa saya mampu untuk melunasi pinjaman saya, yang penting kita rutin membayar cicilan tiap bulannya, yah… Tertiblah", lanjut Pak Sahidin.
Berkat hasil peminjaman dan kerja kerasnya, kini Pak Sahidin pun tidak hanya bisa membangun rumah, tapi juga bisa membangun studio lukis pribadinya untuk melukis. Untuk saat ini saja, ia sudah mengantongi 8 kolektor tetap, yang salah satunya adalah Direktur dari Orang Tua Grup, dan targetnya adalah mempunyai 15 kolektor tetap, karena bagi pelukis, rumus untuk bisa hidup mapan adalah mempunyai 15 kolektor tetap.
Tema lukisan yang kini banyak diminati dan terjual habis adalah lukisan panen dan pasar. Menurutnya, lukisan panen mengandung makna hasil, dan lukisan pasar mengandung makna unsur mitra kerja. "Kata kolektor, rumah ideal itu harus ada lukisan panen atau pasar, supaya fengshuinya bagus. Bahkan pernah ada tawaran seharga Rp 45 juta, dan lukisan itu sudah terjual. Bisnis lukisan itu, bisnis misteri. Contohnya pelukis Nyoman Masriadi. Dulu harga lukisannya hanya ratusan ribu, tapi sekarang sudah mencapai milyaran rupiah", urai Pak Sahidin.
Pelukis yang telah belajar melukis selama 40 tahun tersebut, mengungkapkan kendala bisnisnya selama ini “Saya menghadapi beberapa kendala dalam menjalankan bisnis ini diantaranya adalah proses penjualan lukisan yang tidak mudah karena saya harus menemukan pembeli atau berusaha mencari kolektor maniak maupun galeri-galeri yang bersedia menjual lukisan-lukisan saya, saya ingin ada kolektor yang langsung beli dengan jumlah yang banyak seperti salah satu nasabah saya dari Orang Tua Group dan kolektor dari orang asing yang berasal dari Amerika, Inggris dan Belanda.”
Bagi Pak Sahidin yang menggunakan fasilitas peminjaman kredit sebesar Rp 25 juta, Ia sangat berharap agar bank memperhatikan pengusaha kecil seperti dirinya, ketika dulu ia mulai merintis karir. "Paradigma perbankan harus diubah, karena perbankan cenderung enggan untuk meminjamkan kredit kepada orang-orang kecil seperti saya dulu, mungkin karena kurang percaya. Harapan saya agar semua bank, memperhatikan hal itu dengan baik. Kalau bisa, saya juga mempunyai ide agar lukisan bisa dijadikan agunan di bank…hehehe”, canda Pak Sahidin.
Tak hanya itu, Pak Sahidin pun juga berharap suatu hari nanti bisa memberikan pertunjukan dengan konsep berupa melukis dengan irama suara kuas di atas kanvas. Dari pertunjukan tersebut, ada tiga aspek yang ingin ditawarkan oleh Pak Sahidin, pertama melukis menjadi sebuah pertunjukan, kedua audio visual menjadi irama yang dapat dinikmati, dan ketiga hasil proses kreatif berupa lukisan yang selesai dibuat dan dapat dijual. Baginya, pertunjukan tersebut mungkin pertama di Indonesia, bahkan di dunia. “Yah… Mudah-mudahan ada bank yang bersedia membantu saya untuk mewujudkan hal tersebut”, harap Pak Sahidin untuk kedua kalinya.